Entri Populer

Tampilkan postingan dengan label Kesenian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesenian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Februari 2013

Perkembangan Seni Rupa, Sastra, dan Pertunjukan Pada Masa Penjajahan Belanda

Artikel dan Makalah tentang Perkembangan Seni Rupa, Sastra, dan Pertunjukan Pada Masa Penjajahan Belanda - Pada masa pemerintah kolonial Belanda berkuasa di Indonesia segala seuatu yang berkaitan dengan aktivitas masyarakat mendapat pengawasan yang ketat dari pemerintah Belanda. Demikian halnya dengan perkembangan seni, pemerintah kolonial Belanda memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mewujudkan apresiasi seni sepanjang menguntungkan bagi kelangsungan kekuasaan penjajah.

1) Perkembangan seni rupa pada masa penjajahan

Pada masa penjajahan Belanda perkembangan seni rupa, khususnya seni lukis memperoleh angin segar. Pada masa VOC, pemerintahan Heeren XVII mengeluarkan peraturan yang sangat menguntungkan bagi perkembangan seni lukis di Indonesia. Isi peraturan tersebut, yaitu setiap kapal yang melakukan ekspedisi pelayaran ke Indonesia harus menyertakan pelukis-pelukis atau juru gambar (teekenaars). Di samping memenuhi keinginan VOC, para juru gambar itu pun menggunakan kesempatan berkunjung ke Indonesia untuk mengembangkan kreativitasnya dalam melukis.

Di antara karya lukisan terkenal yang dihasilkan pada saat itu, antara lain:

a) “Iringan Pengawal Seorang Pangeran Banten” yang dibuat pada tahun 1596.
b) “Delegasi Diplomatik Pembawa Surat untuk Sultan Ageng Tirtayasa” yang dibuat pada tahun 1673.

Lukisan-lukisan tersebut sampai sekarang masih tersimpan dengan baik di museum Belanda. Menjelang pecah Perang Dunia II, beberapa pelukis Belanda datang ke Indonesia, antara lain Wolter Spies, Rudolf Bonnet, dan Niewenkamp.

Kedatangan mereka sangat berpengaruh terhadap perkembangan seni lukis Indonesia terutama dalam hal gaya-gaya lukisan yang dianut pelukis Eropa tersebut, misalnya aliran Kubisme, Ekspresionisme, Surialisme atau Simbolisme. Adapun pelukis-pelukis terkenal dari Indonesia pada masa penjajahan Belanda, antara lain Affandi, R. Saleh, dan Basuki Abdullah.

Terbukanya peluang bagi seniman lukis untuk berkarya pada masa VOC berkuasa, memunculkan semangat para seniman lukis muda untuk membentuk perkumpulan yang menampung kegiatan melukis.

Pada tahun 1935 di Bandung muncul kelompok pelukis yang dipimpin Affandi dengan nama “Kelompok Lima” dengan beranggotakan Hendra Gunawan, Wahdi, Soedarso dan Barli. Secara otodidak (tanpa guru) mereka belajar melukis bersama dengan praktik menggambar langsung tanpa berbekal pengetahuan tentang anatomi maupun teknik melukis. Dengan berbekal kemampuan bakat alam, mereka berlima mempraktikkan melukis berbagai objek tanpa target tertentu. Mereka banyak melukis spanduk, membuat poster atau iklan bioskop, dan membuat reproduksi foto-foto. Hasil lukisan mereka sangat banyak peminatnya meskipun dengan otodidak. Hal itu menjadi awal perkembangan seni lukis modern di Indonesia.

Pada tahun 1937 di Jakarta terbentuk kelompok pelukis yang diberi nama Peragi (Persatuan Ahli gambar Indonesia) dengan beranggotakan Otto Djaja, Agus Dhaha, Soedjojono, Mochtar Aoin, dan Emiria Sunarsa. Perkumpulan tersebut tetap dipertahankan keberadaannya sampai Jepang masuk dan menguasai Indonesia. Bahkan pemerintah kolonial Jepang memanfaatkan perkumpulan tersebut sebagai alat propagandanya. Hal itu menjadikan pangkal tolak kebangkitan para seniman khususnya pelukis Indonesia dalam hal berekspresi. Untuk menarik simpatik kalangan seniman Indonesia, pemerintah Jepang mendirikan Pusat Kebudayaan lengkap dengan sarana untuk mengembangkan seni lukis. Pada masa itu, kegiatan belajar melukis berlangsung dengan baik. Di pusat kebudayaan tersebut dibentuk tiga kelompok latihan melukis. 

Masing-masing kelompok latihan tersebut dipimpin oleh Basuki Abdullah, Soebanto Soerjo Soebandrio, dan S. Soedjojono. Melalui organisasi Peragi inilah seni rupa Indonesia mengalami perkembangan.

Pada masa revolusi banyak pelukis Jakarta yang pindah ke Jogjakarta dan mendirikan sanggar-sanggar seni lukis di sana, antara lain Affandi. Pada awal kedatangan di Jogjakarta Affandi mendirikan perkumpulan “Seniman Masyarakat” kemudian berganti nama menjadi “Seniman Indonesia Muda”, dengan beranggotakan Dullah, Harjadi, S. Soedjojono, dan Abdul Salam.

Pada waktu berikutnya Affandi bersama Hendra Gunawan mendirikan sanggar “Pelukis Rakyat” dengan anggota Trubus Soedarsono, Soediardjo, Koesnadi, Setjojoso, dan Soedarso. Selanjutnya pada tahun 1947, para seniman muda, seperti Juski Hakim, Sasongko, Abas Alibasjah, Chairul Bachri, Djono Trisno, Nasir Bondan, Ali Marsaban, Edhi Soenarso dan Sutopo serta beberapa seniman muda lainnya bergabung mendirikan sanggar lukis dengan tujuan memberikan kesempatan kepada seniman-seniman muda untuk mengembangkan bakatnya. Pada waktu itu tema-tema yang diangkat dalam lukisannya berkaitan dengan semangat perjuangan serta bentuk-bentuk kebebasan berekspresi tanpa terikat pada kaidahkaidah tertentu.

Setelah era revolusi, perkembangan seni lukis di Indonesia makin menunjukkan jati dirinya sebagai bagian yang memiliki peran besar dalam membentuk kebudayaan nasional. Sekitar tahun 1970-an dunia seni lukis Indonesia mengalami masa “boom lukisan” dan mampu mengantarkan para seniman lukis Indonesia pada pintu ujian citra berkesenian mereka. Mereka dituntut untuk mampu memenuhi permintaan pasar sekaligus menguji kreativitas para seniman lukis dalam mempertahankan mutu karyanya.

Pada masa itu pula sejarah seni lukis Indonesia mencatat lahirnya sang maestro di dunia lukis Indonesia, yaitu Affandi dan Basuki Abdullah. Dengan gaya lukisannya mampu menempatkan diri pada posisinya sebagai seniman lukis yang profesional.

2) Perkembangan seni bangunan pada masa penjajahan

Pengaruh kebudayaan Eropa pada masa penjajahan terhadap kebudayaan Indonesia tidak terbatas pada seni lukis saja, pada bidang seni bangunan (arsitektur) banyak peninggalan seni bangunan bergaya Eropa bertebaran di Indonesia. Misalnya bangunan benteng, istana, rumah tempat kediaman orang-orang Belanda ataupun Portugis, dan bangunan gereja. Beberapa bangunan peninggalan masa kolonial tersebut kini banyak yang masih berfungsi sebagaimana asalnya, dan sebagian justru menjadi objek wisata budaya, misal Benteng Vredeburg, Vesting, Vestenburg, dan Verstrerking.
Istana Bogor
Gambar 1. Istana Bogor, salah satu bangunan bergaya Eropa, dibangun pada masa penjajahan Belanda berkuasa di Indonesia. (Wikimedia Commons)
Pembangunan benteng-benteng tersebut semula diawali dengan pembangunan gudang-gudang (pakhuizen) tempat menyimpan barang-barang dagangan, yang kemudian berkembang menjadi tempat untuk melindungi diri dari serangan pihak penguasa saat itu.

Banyaknya bangunan bergaya Eropa sebagai peninggalan masa penjajahan Belanda di Indonesia merupakan hasil karya para arsitek Belanda. Arsitek Belanda yang merancang bergaya Eropa, antara lain:

a) Herman Thomas Karsten, banyak membuat rancang bangun bergaya Eropa dipadukan dengan gaya tradisional. Salah satu hasil karyanya adalah bangunan Pasar Johar di Semarang dan bangunan Museum Sonobudoyo – Jogjakarta;
b) W. Lemei, berhasil merancang bangunan kantor gubernuran di Surabaya yang terkenal dan megah;
c) Henri Mclaine Pont, memiliki keunggulan memadukan arsitektur Eropa dengan arsitektur tradisional. Ia banyak menghasilkan bangunan-bangunan gereja di Jawa, kompleks Gereja Katolik Poh Sarang, Kediri, membangun kompleks permukiman di wilayah Darmo; Surabaya dan merekonstruksi kota kuno Majapahit;
d) C. Citroen, berhasil merancang bangunan gedung “randhuis” atau kantor Balai Kota di Surabaya pada tahun 1927, beberapa bangunan rumah kediaman yang tergolong perumahan elite, serta bangunan gereja;
e) CP Wolf Schoemaker, guru Bung Karno dalam ilmu Teknik. Salah satu karya monumentalnya adalah bangunan Villa Isola yang berada di Jalan Lembang Bandung. Semula digunakan sebagai bangunan tempat tinggal, kemudian menjadi bangunan Hotel Homann dan gedung “Societeit Concordia” di Bandung.

Pengaruh seni bangunan model Eropa tetap menjadi bagian dari model arsitektur perumahan di Indonesia hingga kini. Di era tahun 1990-an, seni bangunan Indonesia marak kembali dengan model bangunan ala Spanyol. Bangunan tempat tinggal, dibuat dengan pilar-pilar penyangga di bagian depan. Beberapa bangunan real estate di kota-kota besar banyak menawarkan model perumahan dengan gaya Eropa yang berkesan megah dan modern.

3) Perkembangan seni kerajinan pada masa penjajahan

Pada masa pemerintahan kolonial Belanda bidang seni kriya atau kerajinan, memperoleh kesempatan untuk berkembang. Pada waktu pemerintah Hindia Belanda mengalami kesulitan dalam hal penyediaan alat perlengkapan bagi tentaranya karena adanya konflik dengan Inggris, maka Gubernur Jenderal Daendels yang berkuasa di Indonesia mengeluarkan sebuah kebijakan. Kebijakan tersebut mengenai perlunya pengembangan kerajinan rakyat di bidang pengadaan pakaian, topi, sabuk, sepatu, pakaian berkuda, dan tempat peluru. Pengembangan kerajinan rakyat digunakan untuk memenuhi kebutuhan tentara Belanda.

Demikian pula pada tahun 1811, saat Raffles berkuasa, ia membuka kesempatan berbagai jenis kerajinan rakyat, antara lain pengecoran logam, seni ukir, dan batik untuk dikembangkan sebagai komoditi ekspor.

Pada awal tahun 1888, pemerintah Hindia Belanda memulai langkah-langkah pembinaan terhadap kerajinan rakyat melalui lembaga swasta perhimpunan Hindia Belanda. Salah satunya pembinaan kerajinan dan pertanian yang dipimpin oleh Van Der Kemp dengan memberikan penyuluhan dan bantuan modal serta peralatan.

Pada tahun 1909 pemerintah Hindia Belanda mendirikan sekolah-sekolah pertukangan di Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Pemerintah Hindia Belanda juga sekolah Kerajinan ukir tanduk, anyaman, dan keramik di Ngawi, Jawa Timur.

4) Perkembangan seni sastra pada masa penjajahan

Perkembangan seni sastra pada masa penjajahan di Indonesia berawal saat pemerintah Hindia Belanda mengizinkan pendirian sekolah-sekolah dan mengizinkan penduduk pribumi (meski hanya kalangan terbatas) untuk mengenyam pendidikan (meski terbatas pada tingkat tertentu saja).

Kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda dalam menjalankan politik etis, khususnya dalam bidang pendidikan telah membuka kesadaran masyarakat dalam bidang membaca dan menulis. Hal itu ditandai dengan munculnya berbagai terbitan surat kabar berbahasa Melayu yang ada di Jakarta maupun kotakota besar lainnya. Surat kabar berbahasa Melayu, antara lain:

a) surat kabar Bintang Timoer, terbit di Surabaya, tahun 1862;
b) surat kabar Pelita Ketjil, terbit di Padang, tahun 1882;
c) surat kabar Bianglala di Jakarta dan surat kabar Medan Prijaji di Bandung yang terbit pada tahun 1867.

Melalui surat kabar inilah para cerdik cendekiawan pribumi menuangkan berbagai gagasan buah pikirannya. Beberapa cerita bersambung maupun cerita roman, baik yang ditulis dalam bahasa Melayu maupun bahasa Belanda terbit menghiasi surat kabar tersebut. Beberapa karya sastra dalam bentuk cerita bersambung atau roman pada waktu itu, antara lain:
Max Havelaar
Gambar 2. Sampul depan novel Max Havelaar cetakan ke-5 (1881) karya Multatuli. (WIkimedia Commons)
a) Hikayat Siti Mariah, karangan H. Mukti, merupakan cerita bersambung yang melukiskan kehidupan sehari-hari;
b) Boesono dan Nyai Permana, karangan Raden Mas Tirto Adhisuryo, merupakan cerita roman;
c) beberapa karangan mas Marco Martodikromo, berjudul: Mata Gelap (1914), Studen Hidjo (1919), Syair Rempah-Rempah (1919), dan Rasa Merdeka (1924). Karangan mas Marco Martodikromo ini oleh pemerintah Hindia Belanda dikategorikan sebagai “bacaan liar”, karena berisi hasutanhasutan untuk memberontak;
d) Edward Douwes Dekker, seorang pengarang bangsa Belanda yang menggunakan nama samaran Multatuli menerbitkan karya sastranya yang berjudul “Max Havelaar”. Buku tersebut menggambarkan penderitaan masyarakat pribumi di bawah kekuasaan pemerintahan penjajah Belanda. Tulisan tersebut dibuat berdasarkan pengalamannya saat bertugas di Indonesia, sebagai asisten residen Lebak, Banten tahun 1856; e) Pada tahun 1908 pemerintah Hindia Belanda mendirikan “commissie voor de Inlandsche school de volkslectuur” atau Komisi Bacaan Rakyat atau Balai Pustaka yang bertugas memeriksa dan mencetak naskah-naskah cerita rakyat yang ditulis dalam bahasa daerah. Perkembangan berikutnya komisi tersebut juga menerbitkan kisah kepahlawanan orang-orang Belanda dan cerita-cerita kuno Eropa;
f) Pada tahun 1914, Balai Pustaka menerbitkan roman pertama dalam bahasa Sunda berjudul: “Beruang ka nu Ngarora” artinya Racun Bagi Kaum Muda pengarangnya D.K. Ardiwinata;
g) Pada tahun 1918, Balai Pustaka menerbitkan karya saduran Merari Siregar yang berjudul cerita Si Jamin dan si Johan, disadur dari karya J. Van Maurik. Selain itu Merari Siregar juga mengarang buku roman “Azab dan Sengsara”, merupakan roman pertama berbahasa Indonesia yang diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 1920. Roman tersebut mengkritisi adat kawin paksa yang berlangsung pada masa itu;
h) Pada tahun-tahun berikutnya muncul beberapa roman yang menyoroti tema kawin paksa, yang diterbitkan oleh Balai Pustaka, antara lain:

• Siti Nurbaya, karangan Marah Rusli (1922);
• Muda Teruna, karangan Muhammad Kasim (1922);
• Karam Dalam Gelombang Percintaan, karya Kedjora (1926);
• Pertemuan, karya Abas Sutan Pamuntjak (1928);
• Tjinta Membawa Maut, karya Abdul Ager dan Nursiah Iskandar (1926);
• Darah Muda, karya Adi Negoro (1927);
• Asmara Djaja, karya Adi Negoro (1928);
• Salah Asuhan, karya Abdul Muis (1928).

5) Perkembangan seni pertunjukan pada Masa Penjajahan

Pada masa penjajahan Belanda perkembangan seni pertunjukan, khususnya seni drama modern diawali dengan adanya kelompok teater keliling “Teater Bangsawan” pada tahun 1870 yang berasal dari Penang, Malaysia. Saat mengadakan pentas di Jakarta rombongan tersebut bubar dan semua peralatannya dibeli oleh Jaafar yang kemudian membentuk rombongan baru yang dinamainya” Stamboel “. Di Deli, Sumatra utara telah berdiri teater Indera Ratoe Opera. Beberapa perkumpulan seni pertunjukan yang muncul di era penjajahan Belanda, antara lain:

a) di Surabaya muncul perkumpulan teater bernama Komedi Stamboel yang didirikan oleh August Mehieu, seorang peranakan indo – Perancis, dan didukung dana oleh Yap Goam Tay dan Cassim, bekas pemain teater Indera Bangsawan;
b) di lingkungan masyarakat keturunan Cina pada tahun 1908 mendirikan “Opera Derma” atau “Tjoe Tee Hie”, kemudian tahun 1911 muncul perkumpulan teater “Tjia Im”, “Kim Ban Lian”, Tjin Ban Lian” yang kemudian muncul kelompok teater paling terkenal adalah “Orion” atau “Miss Riboet’s Orion” dengan bintang panggungnya yang bernama Miss Riboet;
c) di Surabaya pada tanggal 21 Juni 1926, Willy Klimanoff, seorang Rusia kelahiran Surabaya mendirikan rombongan sandiwara keliling “Dardanella” yang sangat terkenal. Teater tersebut didukung bintang panggung Tan Tjeng Bok (kemudian menjadi bintang film terkenal) dan berhasil mengadakan pertunjukan keliling ke Cina, Burma, dan Eropa, kemudian bubar;
d) Perdro dan Dja, bekas anggota Dardanella mendirikan kelompok “Bolero”;
e) Fifi Young dan Nyoo Cheong, juga bekas anggota Dardanella mendirikan rombongan baru yang dinamainya “Fifi Young’s Pagoda” pada tahun 1936;
f) pada masa penjajahan Jepang, tahun 1942 muncul teater Bintang Surabaya yang dipimpin oleh Fred Young dengan anggota para bekas bintang-bintang Dardanella, yakni Tan Tjeng Bok, Astaman, Dahlia, Ali Yogo, dan Fifi Young;
g) pada tahun 1943, bermunculan rombonganrombongan teater, seperti Dewi Mada pimpinan Ferry Kok dan isterinya Dewi Mada, teater Warna Sari pimpinan Dasaad Muchsin, dan teater Irama Masa pimpinan Ali Yogo. Semua teater tersebut menggunakan bahasa Indonesia;
h) Berikutnya muncul teater-teater baru yang menggunakan bahasa daerah, antara lain Teater Miss Tjitjih pimpinan Abubakar Bafakih yang menggunakan bahasa Sunda, Sandiwara Wargo pimpinan Suripto menggunakan bahasa Jawa, dan seorang tokoh teater bernama Tio Jr membentuk teater Miss Riboet di Solo.

Anda sekarang sudah mengetahui Perkembangan Seni Rupa, Sastra, dan Pertunjukan Pada Masa Penjajahan Belanda. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Indriyawati, E. 2009. Antropologi 1 : Untuk Kelas XII SMA dan MA. Pusat Perbukuan Departemen Nasional, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 194.

Perkembangan Seni Rupa, Sastra, dan Pertunjukan Pada Masa Kebudayaan Islam

Artikel dan Makalah tentang Perkembangan Seni Rupa, Sastra, dan Pertunjukan Pada Masa Kebudayaan Islam - Kedatangan pedagang-pedagang dari Parsi dan Gujarat ke Indonesia pada abad ke-13 merupakan tonggak sejarah masuknya ajaran agama Islam ke Indonesia. Masuknya ajaran Islam ke Indonesia telah berpengaruh terhadap kebudayaan masyarakat Indonesia.

1) Perkembangan Seni Rupa

Pengaruh kebudayaan Islam yang menonjol adalah tulisan kaligrafi, seni baca al-Qur’an, dan kesenian musik rebana/khazidahan. Pengaruh kebudayaan Islam terhadap perkembangan seni rupa Indonesia tidak terbatas pada lukisan (kaligrafi) melainkan juga pada seni bangunan (arsitektur). Seni bangunan yang merupakan bentuk peninggalan kebudayaan Islam adalah bangunan masjid. Seni arsitektur masjid di Indonesia pada umumnya tidak sepenuhnya menggunakan unsur kebudayaan Islam melainkan masih dipadukan dengan unsur-unsur etnis yang mewakili kebudayaan pra-Islam.

Hal itu tampak jelas pada bangunan masjid kuno yang ada di Indonesia. Bangunan masjid Agung di keraton Surakarta, misalnya tetap mempertahankan unsur kebudayaan Jawa dalam bentuk atap limasan dan hiasan ukiran yang mengingatkan kita pada kebudayaan Hindu.

2) Perkembangan Seni Sastra

Perkembangan bidang seni sastra pada masa awal penyebaran agama Islam di Indonesia sebagai berikut.

a) Pada abad ke-17, agama Islam telah berkembang di Sulawesi Selatan, sehingga kesusastraan Bugis dan Makassar ditulis dalam huruf Arab yang disebut aksara Serang.
b) Pada masa Kerajaan Mataram Islam yang dipimpin Sultan Agung (1613 – 1645) pengaruh kesusasteraan Islam terhadap kebudayaan Jawa tampak dalam bentuk perhitungan kalender yang dikenal sebagai “tahun Jawa”. Sistem kalender tersebut dihitung menurut peredaran bulan (tarikh komariah) sesuai dengan perhitungan kalender Islam.
c) Perkembangan sastra pada masa awal penyebaran agama Islam di daerah Melayu (kawasan Sumatra dan sekitarnya) muncul sastra saduran yang bersumber pada karya-karya sastra Persia serta karya-karya sastra Jawa. Karya-karya sastra yang diterbitkan di daerah Melayu ditulis dalam huruf Arab, sedangkan karya sastra saduran yang diterbitkan di Jawa ditulis dengan huruf Jawa dan huruf Arab. Karya-karya sastra saduran dari Persia berkaitan dengan cerita mengenai Bayan Budiman, Amir Hamzah, dan Cerita Seribu Satu Malam. 

Beberapa karya sastra saduran pada masa itu, antara lain:

• Hikayat Bayan Budiman,
• Hikayat Ghulam,

• Hikayat Azbak,
• Hikayat Zadabaktin,
• Hikayat Amir Hamzah, dan
• Hikayat Bakhtiar.

Karya sastra saduran yang berlatar belakang sejarah kepahlawanan, antara lain:

• Hikayat Raja-Raja Pasai,
• Hikayat Hang Tuah,
• Sejarah Melayu, dan
• Hikayat Silsilah Perak.

Beberapa karya sastra saduran yang bersumber dari karya sastra kuno Jawa, antara lain:

• Hikayat Sri Rama,
• Hikayat Perang Pandawa Jaya, dan
• Hikayat Pandawa Lima.

d) Salah satu jenis sastra yang berkembang pesat pada masa awal pernyiaran agama Islam di Indonesia adalah jenis sastra yang disebut suluk. Istilah suluk berasal dari bahasa Arab yang berarti jalan. Suluk merupakan jenis sastra mistik Islam atau tasawuf, sedangkan makna suluk merupakan jalan atau proses untuk mendekatkan diri dalam menemukan hakikat Ilahi. Karya-karya sastra suluk, antara lain:

• Suluk Sukarsa,
• Suluk Malang Sumirang,
• Syair Perahu,
• Suluk Wijil, dan
• Syair Si Burung Pingai, karya Hamzah Fansuri.

e) Karya-karya sastra saduran jenis suluk yang berkembang di Jawa, antara lain:

• Serat Rengganis,
• Serat Menak, merupakan saduran Hikayat Amir Hamzah,
• Serat Kanda, dan
• Serat Ambiya.

3) Perkembangan Seni Pertunjukan

Seni pertunjukan khususnya di Jawa berkembang seiring dengan kegiatan dakwah oleh Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga, salah satu dari Walisanga dan tokoh penyebar agama Islam di Pulau Jawa, menggunakan media wayang kulit sebagai media dakwah.

Seni pertunjukan wayang kulit yang sampai kini tetap digemari oleh masyarakat Jawa (khususnya Jawa Tengah dan DIJ) sesungguhnya merupakan hasil penyempurnaan yang dilakukan oleh Walisanga pada masa kerajaan Islam di Demak abad ke-17.

Dari wayang kulit inilah berkembang muncul berbagai jenis wayang, antara lain wayang golek dan wayang tengul. Wayang golek dan wayang tengul merupakan jenis boneka kayu yang mengambil karakter tokoh dari wayang kulit, wayang krucil, dan wayang gedog.
Wayang golek cepot
Gambar 1. Cepot. Wayang golek, merupakan bentuk seni pertunjukan yang sangat digemari masyarakat Sunda. Wayang golek merupakan bentuk pengembangan wayang kulit. (Wikimedia Commons)
Perkembangan agama Islam yang kian pesat di Indonesia telah memengaruhi terhadap pola kebudayaan masyarakat, misalnya seni berpakaian. Dalam seni berpakaian, pengaruh kebudayaan Islam tampak dalam bentuk model baju koko pada kemeja laki-laki dan aneka corak peci yang mendapat pengaruh dari kebudayaan Timur Tengah.

Anda sekarang sudah mengetahui Perkembangan Seni Rupa, Sastra, dan Pertunjukan Pada Masa Kebudayaan Islam. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Indriyawati, E. 2009. Antropologi 1 : Untuk Kelas XII SMA dan MA. Pusat Perbukuan Departemen Nasional, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 194.

Perkembangan Seni Rupa, Sastra, dan Pertunjukan Pada Masa Kebudayaan Hindu Budha

Artikel dan Makalah  tentang Perkembangan Seni Rupa, Sastra, dan Pertunjukan Pada Masa Kebudayaan Hindu Budha - Ilmu pengetahuan dan teknologi, merupakan faktor utama dalam menentukan perkembangan pola kebudayaan masyarakat. Perubahan lingkungan sosial terus berlangsung seiring dengan perkembangan manusia, sehingga mengakibatkan makin berkembangnya kebudayaan. Salah satu hal yang menandai perkembangan kebudayaan masyarakat adalah proses penyebaran kebudayaan dari satu tempat ke tempat lainnya. Hal tersebut menyebabkan makin banyaknya corak kebudayaan sebagai akibat percampuran kebudayaan (akulturasi).

Di Indonesia pengaruh kebudayaan Hindu mewarnai pola kebudayaan masyarakat sejak abad ke-4 Masehi.
Bukti adanya pengaruh kebudayaan Hindu di Indonesia adalah berupa batu bertulis (prasasti) yang ditemukan di pedalaman daerah Sungai Cisadane, dekat Bogor, batu bertulis di daerah Muara Kaman, Kutai, Kalimantan Timur.

Tulisan-tulisan yang terpahat di batu tersebut menggunakan huruf Pallawa. Dalam tulisan tersebut, antara lain mengungkapkan tentang keadaan kerajaan-kerajaan pada masa itu. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa masuknya kebudayaan Hindu dikarenakan para raja mengundang ahli-ahli dan orang pandai dari golongan Brahmana (pendeta) di India selatan yang beragama Wisnu atau Brahma. Mereka diminta raja untuk memimpin upacara-upacara keagamaan yang diselenggarakan oleh kerajaan, di samping sebagai penasihat spiritual serta penasihat di bidang pemerintahan/kenegaraan. Dengan demikian pengaruh kebudayaan Hindu pada masa itu terbatas pada kalangan kerajaan dan keluarganya saja.

Berbagai benda bersejarah peninggalan kebudayaan Hindu di Indonesia terutama menyangkut peninggalan masa kejayaan suatu kerajaan. Benda peninggalan tersebut pada umumnya berbentuk bangunan yang fungsinya berkaitan dengan sistem religi, sedangkan corak pembuatannya menunjukkan tingginya tingkat peradaban pada masa itu.

1) Perkembangan Seni Rupa

Berbagai bentuk candi maupun arca peninggalan zaman kerajaan Hindu menunjukkan perkembangan seni bangunan (relief) yang sekaligus menunjukkan perkembangan seni rupa pada masa Indonesia kuno.
Candi Prambanan
Gambar 1. Candi Prambanan, salah satu benda sejarah peninggalan kerajaan Hindu di Indonesia. Bangunan dan relief yang terdapat di dalamnya merupakan bentuk pengaruh kebudayaan Hindu terhadap seni rupa di Indonesia pada masa itu. (Wikimedia Commons)
Demikian halnya dengan masuknya ajaran agama Buddha di Indonesia telah berpengaruh terhadap pola bangunan candi pada masa itu. Salah satu peninggalan sejarah kebudayaan Buddha di Indonesia, misalnya Candi Borobudur. Candi Borobudur merupakan bentuk peninggalan sejarah pada masa kerajaan Mataram kuno yang mendapatkan pengaruh kebudayaan Buddha.

2) Perkembangan Seni Sastra

Perkembangan bidang seni sastra di Indonesia pada masa kebudayaan Hindu-Buddha, dapat kita temukan dalam bentuk sebagai berikut.

a) Prasasti adalah batu bertulis yang menunjukkan kemajuan seni sastra berupa tulisan yang dituangkan dalam bentuk relief (seni cetak). Misal: prasasti Kedukan Bukit (683 M) di daerah Kedukan Bukit, tepi sungai Tatang, Palembang; prasasti Talang Tuo (684 M) ditemukan di Talang Tuo, Palembang; dan Prasasti Palas Pasemah di Lampung.
b) Masa kejayaan Sriwijaya pada abad ke-7 dan ke- 8 Masehi menempatkan Sriwijaya sebagai pusat ilmu pengetahuan agama Buddha. Pada masa itu ada salah seorang pendeta Buddha bernama Sakyakirti. Sakyakirti banyak memberikan bimbingan kepada murid-muridnya, antara lain I Tsing dari Cina. I-Tsing diberi tugas khusus menerjemahkan kitab suci agama Buddha.
c) Pada zaman pemerintahan Empu Sindok (929 – 947), disusun kitab suci agama Buddha Tantrayana yang berjudul “Sang Hyang Kamahayanikan”.
d) Pada masa pemerintahan raja Hayam Wuruk (1350 – 1389), yang merupakan salah satu raja Majapahit. Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan yang bercorak Hindu. Pada masa itu, Patih Gajah Mada menyusun Kitab Hukum Kutaragama. Empu Prapanca, seorang pujangga kerajaan berhasil mengarang Kitab Negarakertagama (1365). Kitab Negarakertagama berisi tentang sejarah Kerajaan Singasari dan Majapahit. Empu Tantular yang berhasil menulis Kitab Sutasoma.
e) Pada zaman keemasan kerajaan Kahuripan hingga zaman kerajaan Kediri (1045 – 1222) seni sastra berkembang pesat, antara lain adanya buku-buku sastra karangan pujangga masa itu. Buku-buku sastra yang dimaksud, yaitu Kitab Smaradahana (Empu Darmaja), Kitab Baratayuda (Empu Sedah dan Empu Panuluh), Kitab Lubdhaka dan Wrata (Empu Tanakung), dan kitab Arjunawiwaha (Empu Kanwa).
Prasasti Muara Kaman
Gambar 2. Prasasti Muara Kaman dengan huruf Pallawa dalam bahasa Sanskerta menuliskan tentang pemerintahan Raja Mulawarman yang memimpin kerajaan Kutai. (Wikimedia Commons)
3) Perkembangan Seni Pertunjukan

Perkembangan seni pertunjukan pada masa Indonesia kuno dapat diketahui melalui tulisan pada prasasti-prasasti, relief-relief candi, dan kitab-kitab sastra yang ada. Secara khusus tidak ada prasasti yang menuliskan tentang adanya suatu bentuk pertunjukan seni, namun pemakaian kata-kata yang bermakna tentang seni pertunjukan sering muncul dalam prasasti, kitab sastra, ataupun relief pada candi. Kitab sastra dan relief tersebut dipergunakan para ahli etnografi untuk menyimpulkan bahwa pada masa itu, seni pertunjukan yang berkaitan dengan seni musik dan seni tari telah berkembang dengan baik.

Beberapa kosakata yang ada pada prasasti, relief candi, ataupun buku sastra pada masa Indonesia kuno diidentikkan dengan perkembangan seni pertunjukan, antara lain:

a) adanya kata-kata: mrdangga, padahi, tuwung, curing, dan murawa yang ada dalam prasasti merupakan sebutan untuk jenis-jenis alat musik pada masa Indonesia kuno;
b) kata-kata: widu mangidung, yang sering muncul di prasasti menunjukkan makna “menyanyi“ (seni vokal);
c) kata-kata mangigel atau anigelaken dan mamirus yang berarti tari topeng menunjukkan perkembangan seni tari pada masa itu;
d) relief-relief yang terdapat pada dinding candi Borobudur menggambarkan alat musik petik, siter dan kecapi, alat musik kendang dan alat musik tiup, menujukkan pada masa itu telah berkembang seni musik;

e) relief-relief yang terdapat pada dinding candi Sukuh, Tawangmangu, Jawa Tengah menunjukkan gambar terompet dan alat musik bendhe. Pilihan pembuat candi menggambarkan relief tentang alatalat musik tersebut menunjukkan bahwa pada masa itu telah berkembang seni pertunjukan musik dan tari di tengah kehidupan masyarakat. Relief candi pada hakikatnya merupakan bentuk kegiatan mendokumentasikan pola perilaku masyarakat pada masa itu;
f) beberapa kitab sastra yang disusun oleh para pujangga kerajaan pada masa Indonesia kuno telah memasukkan beberapa kata dan kalimat yang menunjukkan makna adanya suatu bentuk seni pertunjukan, baik yang mencakup seni musik maupun seni tari, kitab sastra tersebut sebagai berikut.

• Dalam kitab Arjunawiwaha, disebutkan “ …ghurna ng gong bheri ..”
• Dalam kitab Sutasoma dituliskan “ …munyang gong pangarah .. “
• Dalam kitab Lubdhaka, dituliskan “… rojeh gong gumuruh ..”
• Dalam kitab Hariwangsa, dituliskan “ … rojeh gong grebeg ning bala … “

Kata-kata “gong” pada kalimat tersebut menunjukkan makna sebagai alat musik tradisional, yang sampai kini masih dipergunakan sebagai salah satu dari alat musik tradisional Jawa.
Gong
Gambar 3. Gong merupakan salah satu alat musik penting dalam instrumen tradisional Jawa yang telah dikenal sejak zaman Indonesia kuno. (Wikimedia Commons)
• Demikian pula dalam Kitab Smaradahana, Hariwangsa, dan Tantri Kamandaka dituliskan alat musik kendang dengan istilah “tabehtabehan” atau “ tetabuhan”.
• Dalam Kitab Arjunawiwaha juga dituliskan tentang alat musik simbal yang disebut sebagai “barebet “.
• Dalam Kitab Malat terdapat tulisan alat musik gambang, yakni salah satu alat musik tradisional Jawa yang berupa rangkaian bilahan kayu dengan nada berbeda-beda dibunyikan dengan dua alat pemukul yang bagian pemukulnya bulat pipih.
• Dalam Kitab Malat juga dituliskan tentang pemakaian alat musik rebab (jenis alat musik gesek tradisional Jawa) dalam kalimat “…. rebab muni alangu …“, serta menyebutkan alat musik kecapi dengan istilah kacapi atau kachapi.

• Dalam Kitab Kidung Harsawijaya, terdapat kata-kata angidung, yang berarti menyanyi, angringgit yang berarti memainkan wayang (ringgit = wayang), anepuk atau anapuk yang berarti menari topeng, dan amidu atau widu yang mengandung makna menyanyi, serta agugujegan yang berarti melucu atau melawak.

Berdasarkan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa pada masa Indonesia kuno, masyarakat telah mengenal seni pertunjukan yang terdiri atas seni vokal (menyanyi), seni musik (gamelan), dan seni tari.

Dalam bidang seni pertunjukan pengaruh kebudayaan Hindu memunculkan berbagai bentuk seni tari maupun seni drama tradisional yang masih lestari hingga kini, antara lain:

• wayang orang ataupun wayang kulit yang mengambil cerita dari kisah Mahabharata dan Ramayana;
• drama tari topeng yang mengambil kisah cerita panji;
• tari topeng panji, tari topeng rumyang dan tari topeng tumenggungan dari Cirebon;
• tari klono topeng dan tari gunung sari, di Jawa Tengah.

Anda sekarang sudah mengetahui Perkembangan Seni Rupa, Sastra, dan Pertunjukan Pada Masa Kebudayaan Hindu Budha. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Indriyawati, E. 2009. Antropologi 1 : Untuk Kelas XII SMA dan MA. Pusat Perbukuan Departemen Nasional, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 194.

Selasa, 05 Februari 2013

Seni Satra Lisan dan Tulisan di Indonesia : Pengertian, Contoh, Bentuk, Macam-macam

Artikel dan Makalah tentang Seni Satra Lisan dan Tulisan di Indonesia : Pengertian, Contoh, Bentuk, Macam-macam - Indonesia dikenal sangat kaya akan seni sastra, baik tulisan maupun lisan. Hal ini karena Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa yang masing-masing memiliki bahasa daerah masing-masing.

A. Seni Sastra Lisan

Seni sastra lisan di Indonesia berkembang secara turun-temurun. Kebanyakan bercirikan menggunakan bahasa yang panjang lebar, pola dan susunan teksnya baku, serta ceritanya tersusun dari beragam peristiwa yang benar-benar terjadi, dongeng khayalan atau teks keagamaan. Masing-masing pencerita mempunyai keleluasaan di dalam menampilkan tradisi lisan. Bentuk seni sastra lisan yang berkembang di Indonesia, antara lain:

1) Mitos atau Mite

Mitos adalah seni sastra bersifat religius, namun memberi rasio pada kepercayaan dan praktik keagamaan. Masalah pokok yang diulas di dalam mitos adalah masalah kehidupan manusia, asal mula manusia dan makhluk hidup lain, sebab manusia di bumi, dan tujuan akhir hidup manusia. Fungsi mitos yaitu memberi penjelasan tentang alam semesta dan keteraturan hidup dan perilaku.

Mite yang hidup di Indonesia biasanya bercerita tentang proses terciptanya alam semesta (kosmogony), asal usul dan silsilah para dewa (theogony), pencitaan manusia pertama dan pembawa kebudayaan, asal usul makanan pokok (padi), dan sebagainya. Berikut salah satu mite yang hidup di Jawa.
Batara Guru
Gambar 1. Batara Guru. (Wikimedia Commons)
"Konon, pada masa dahulu kala Pulau Jawa belum berpenghuni sehingga mudah terombang-ambing terkena ombak laut. Hanya Bathara Guru dan Bathari Parameswari yang berani menempatinya. Maka, agar Pulau Jawa menjadi tenang, Bathara Guru memanggil para dewa untuk datang ke Jambudwipa. Intinya mereka diperintah untuk memindahkan Gunung Mahameru ke Pulau Jawa untuk dijadikan pasak. Para dewa pun bergotong-royong mengangkat gunung tersebut. Bathara Wisnu berubah menjadi tali untuk mengikat dan Bathara Brahma menjadi kura-kura untuk kendaraannya. Separuh gunung ditinggal dan puncaknya bisa sampai ke Jawa. Selama perjalanan, ada bagian-bagian gunung yang jatuh dan membentuk Gunung Wilis, Gunung Kelud, serta Gunung Kawi. Puncaknya menjadi Gunung Semeru dan menjadi pusat dunia seperti Gunung Mahameru di Jambudwipa.

2) Legenda

Legenda merupakan cerita yang bersifat semihistoris mengenai pahlawan, terciptanya adat, perpindahan penduduk, dan selalu berisi percampuran antara fakta dan supernatural. Legenda tidak banyak mengandung masalah, namun lebih kompleks dari mitos. Fungsinya antara lain memberi pelajaran, ajaran moral, meningkatkan rasa bangga terhadap suku bangsa atau moyangnya. Suatu legenda yang lebih panjang berbentuk puisi atau prosa ritmis dikenal dengan epik.

3) Epik

Epik merupakan cerita lisan yang panjang, kadang-kadang dalam bentuk puisi atau prosa ritmis yang menceritakan perbuatan-perbuatan besar dalam kehidupan orang yang sebenarnya atau yang ada dalam legenda.

4) Dongeng

Dongeng merupakan suatu cerita yang tidak nyata dan tidak historis yang fungsinya untuk memberi hiburan dan memberi pelajaran atau nasihat.

Nah, kamu telah mengetahui bentuk-bentuk seni sastra lisan di Indonesia. Berikut ini adalah contoh-contoh seni sastra lisan yang hidup di Indonesia.

1) Pantun Sunda

Pantun Sunda adalah penceritaan bersyair orang Sunda (Jawa Barat) dengan diiringi oleh musik kecapi. Tradisi ini biasanya dilakukan sebelum atau sesudah upacara tradisional misalnya pernikahan dan merupakan hiburan tunggal. Juru pantun menyanyi sesuai irama kecapi yang ia petik dalam skala pentatonik (lima nada). Kecapi Sunda itu biasanya berbentuk perahu dengan 18 senar. Pantun Sunda biasanya berisi kisah cerita dari masa Kerajaan Hindu Pajajaran. Cerita ditampilkan secara bersamaan antara percakapan dan nyanyian. Salah satu pantun Sunda yang terkenal adalah Lutung Kasarung, syairnya terdiri atas 1.000 baris dan berasal dari abad XV. Semula, tradisi ini disampaikan oleh pendongeng profesional yang berkelana dari desa ke desa. Maksudnya untuk mengajarkan kepercayaan agama, sejarah, mitologi, sopan santun, dan lain-lain. Dalam perkembangannya, tradisi ini berubah menjadi cerita anakanak.

2) Rabab Pariaman

Tradisi pertunjukan lisan ini berasal dari Sumatra Barat. Tukang rabab menyampaikan cerita dalam wujud nyanyian dengan ciri dialek Pariaman. Tradisi ini biasa dipertunjukkan pada pesta perkawinan, perayaan nagari, pesta pengangkatan penghulu, dan lain-lain. Cerita yang disampaikan berisi perjuangan untuk mencapai keberhasilan hidup. Tokoh dalam cerita itu menghadapi kesulitan dalam mencapai keberhasilan, kemudian mendapat tanggapan dari penonton.

3) Makyong

Tradisi ini semula berasal dari Pattani, Muangthai, namun berkembang ke selatan hingga pesisir Melayu. Makyong merupakan pertunjukan teater di mana unsur-unsur drama, tari, musik, mimik, dan sebagainya tergabung menjadi satu. Semula, tradisi ini dipertunjukkan di kalangan atas Istana Kelantan dan Riau Lingga hingga tahun 1700-an. Fungsinya bukan untuk menghibur tetapi penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sultan dan istrinya dianggap wakil Tuhan, maka makyong dianggap persembahan kepada Tuhan. Dalam perkembangannya, makyong berubah menjadi pertunjukan desa sebagai hiburan atau upacara penyembuhan. 

Kisah yang dimainkan sebagian besar berasal dari warisan cerita-cerita istana kerajaan Melayu, biasanya berbentuk prosa tanpa naskah. Makyong antara lain terdiri atas punakawan (pengasuh) yang mengenakan topeng, wak petanda (ahli pembintangan atau orang bijak), serta para pemain yang semua diperankan oleh kaum perempuan. Salah satu kisah yang paling disukai dalam tradisi makyong adalah dewa muda.

4) Wayang Kulit dan Wayang Beber

Tradisi ini merupakan tradisi lisan yang lakonnya bersumber dari legenda serta kisah lisan sastra tulis atas tradisi India dan Jawa. Wayang kulit dan wayang beber bisa ditemukan di Jawa, Bali, Sumatra Selatan, dan Jawa Barat. Tradisi wayang berbentuk teater boneka dengan menggunakan layar (kelir), gamelan, dan 400-an wayang. Hidup tidaknya pertunjukan ini ditentukan oleh dalang, karena dialah yang menguasai pertunjukan.


Seni sastra tulisan Indonesia menurut periodisasinya digolongkan menjadi:

1) Pujangga Lama

Karya sastra Pujangga Lama di Indonesia dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya satra di Indonesia di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat. Syair adalah puisi atau karangan dalam bentuk terikat yang mementingkan irama sajak. Biasanya terdiri atas 4 baris, berirama aaaa, keempat baris tersebut mengandung arti atau maksud penyair (pada pantun, 2 baris terakhir yang mengandung maksud). Pantun merupakan sejenis puisi yang terdiri atas 4 baris bersajak ab-ab atau aa-aa. Dua baris pertama merupakan sampiran, yang umumnya tentang alam (flora dan fauna). Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.

Gurindam adalah satu bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua baris kalimat dengan irama akhir yang sama, yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian dan baris kedua berisikan jawaban nya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi. Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa, terutama dalam Bahasa Melayu yang berisikan tentang kisah, cerita, dongeng, maupun sejarah.

Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama. Beberapa karya sastra pada masa pujangga lama diantaranya Hikayat Abdullah, Hikayat Andaken Penurat, dan Hikayat Bayan Budiman.

2) Sastra Melayu Lama

Merupakan karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870–1942, yang berkembang di lingkungan masyarakat Sumatra seperti Langkat, Tapanuli, Padang dan daerah Sumatra lainnya, Cina dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat. Beberapa contoh karya sastra Melayu lama yaitu Nyai Dasima oleh G. Francis (Indo), Bunga Rampai oleh A.F van Dewall, Kisah Perjalanan Nakhoda Bontekoe, Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan, Kisah Pelayaran ke Makassar dan lain-lain

3) Angkatan Balai Pustaka

Karya sastra angkatan Balai Pustaka muncul di Indonesia sejak tahun 1920–1950, yang dipelopori oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini. Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak dan bahasa Madura. Contoh karya sastra angkatan Balai Pustaka antara lain Azab dan Sengsara, Seorang Gadis oleh Merari Siregar, Sengsara Membawa Nikmat oleh Tulis Sutan Sati, dan Siti Nurbaya oleh Marah Rusli.

4) Pujangga Baru

Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis menjadi “bapak” sastra modern Indonesia. Pada masa itu, terbit pula majalah “Poedjangga Baroe” yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930–1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana. Karya sastra Pujangga Baru di antaranya Layar Terkembang oleh Sutan Takdir Alisjahbana dan Belenggu oleh Armijn Pane. Makna Pujangga atau Bujangga adalah pemimpin agama atau pendeta. Tetapi, makna pujangga dalam pujangga baru adalah ”pencipta”.

5) Angkatan ’45

Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan ’45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik-idealistik. Misalnya, Surat Cinta Enday Rasidin, Simphoni oleh Subagio Sastrowardojo, dan Balada Orangorang Tercinta oleh W.S.Rendra

6) Angkatan 66-70-an

Angkatan ini ditandai dengan terbitnya majalah sastra Horison. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastranya. Sastrawan pada akhir angkatan yang lalu termasuk juga dalam kelompok ini seperti Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Gunawan Mohammad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hurip, Sutardji Calzoum Bachri, dan termasuk paus sastra Indonesia, H.B.Jassin.

Seorang sastrawan pada angkatan 50–60-an yang mendapat tempat pada angkatan ini adalah Iwan Simatupang. Pada masanya, karya sastranya berupa novel, cerpen dan drama kurang mendapat perhatian. Beberapa satrawan pada angkatan ini antara lain Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C Noer, Akhudiat, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Gunawan Mohammad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Widjaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail dan banyak lagi yang lainnya. Karya Sastra Angkatan ‘66 di antaranya Amuk, Kapak, Laut Belum Pasang, Meditasi, Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur, Tergantung Pada Angin, Dukamu Abadi, Aquarium, Mata Pisau dan Perahu Kertas.

7) Angkatan 80-an

Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas di berbagai majalah dan penerbitan umum. Beberapa sastrawan yang dapat mewakili Angkatan dekade 80-an ini antara lain Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, dan Kurniawan Junaidi. Karya Sastra Angkatan Dasawarsa 80 antara lain Badai Pasti Berlalu, Cintaku di Kampus Biru, Sajak Sikat Gigi, Arjuna Mencari Cinta, Manusia Kamar, dan Karmila. Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka. Pada umumnya, tokoh utama dalam novel mereka adalah wanita. Bertolak belakang dengan novelnovel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad ke-19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-karya pada era 80-an biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.

Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 80-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran pop (tetapi tetap sah disebut sastra, jika sastra dianggap sebagai salah satu alat komunikasi), yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang dipelopori oleh Hilman dengan Serial Lupus-nya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih “berat”. Budaya barat dan konflik-konfliknya sebagai tema utama cerita terus mempengaruhi sastra Indonesia sampai tahun 2000.

8) Angkatan 2000-an

Sastrawan angkatan 2000 mulai merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 90-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi kisah novel fiksi. Apakah kamu mengenal Ayu Utami dengan karyanya Saman? Sebuah fragmen dari cerita Laila Tak Mampir di New York. Karya ini menandai awal bangkitnya kembali sastra Indonesia setelah hampir 20 tahun. Gaya penulisan Ayu Utami yang terbuka, bahkan vulgar, itulah yang membuatnya menonjol dari pengarang-pengarang yang lain. Novel lain yang ditulisnya adalah Larung.

Anda sekarang sudah mengetahui Seni Sastra Lisan dan Seni Satra Tulisan. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Dyastriningrum. 2009. Antropologi : Kelas XII : Untuk SMA dan MA Program Bahasa. Pusat Perbukuan Departemen Nasional, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 90.

Seni Tari dan Drama, Seni Pertunjukan : Pengertian, Contoh, Macam-macam, Modern, Tradisional

Artikel dan Makalah tentang Seni Tari dan Drama, Seni Pertunjukan : Pengertian, Contoh, Macam-macam, Modern, Tradisional - Dalam bahasa Inggris, seni pertunjukan dikenal dengan istilah perfomance art. Seni pertunjukan merupakan bentuk seni yang cukup kompleks karena merupakan gabungan antara berbagai bidang seni. Jika kamu perhatikan, sebuah pertunjukan kesenian seperti teater atau sendratari biasanya terdiri atas seni musik, dialog, kostum, panggung, pencahayaan, dan seni rias. Seni pertunjukan sangat menonjolkan manusia sebagai aktor atau aktrisnya. Seni pertunjukan dibagi dua yaitu seni pertunjukan tradisional dan seni pertunjukan modern atau yang muncul belakangan ini. Apabila dilihat dari perkembangannya akan terlihat bahwa seni pertunjukan tradisional kalah berkembang dengan seni pertunjukan modern. Apabila tidak diantisipasi dengan baik, bukan tidak mungkin seni pertunjukan tradisional tersebut akan hilang.

A. Seni Pertunjukan Tradisional

Di dalam setiap pementasannya, beberapa bentuk kesenian tradisional selalu membawa misi yang ingin disampaikan kepada penonton. Misi atau pesan itu dapat bersifat sosial, politik, moral dan sebagainya. Sebenarnya dalam setiap pertunjukan seni tradisional ada beberapa nilai tertentu yang dikandungnya. Seni pertunjukan tradisional secara umum mempunyai empat fungsi, yaitu fungsi ritual, fungsi pendidikan sebagai media tuntunan, fungsi atau media penerangan atau kritik sosial dan fungsi hiburan atau tontonan.

Untuk memenuhi fungsi ritual, seni pertunjukan yang ditampilkan biasanya masih berpijak pada aturan-aturan tradisi. Misalnya sesaji sebelum pementasan wayang, ritual-ritual bersih desa dengan seni pertunjukan dan sesaji tertentu, pantangan-pantangan yang tidak boleh dilanggar selama pertunjukan dan lainlain. Sebagai media pendidikan, pertunjukan tradisional mentransformasikan nilai-nilai budaya yang ada dalam seni pertunjukan tradisional tersebut. Oleh karena itu, seorang seniman betul-betul dituntut untuk dapat berperan semaksimal mungkin atas peran yang dibawakannya. Seni pertunjukan tradisional (wayang kulit, wayang orang, ketoprak) sebenarnya sudah mengandung media pendidikan pada hakikat seni pertunjukan itu sendiri, dalam perwatakan tokoh-tokohnya dan juga dalam ceritanya. Misalnya pertentangan yang baik dan yang buruk akan dimenangkan yang baik, kerukunan Pandawa, nilai-nilai kesetiaan dan lain-lain.

Pada masa sekarang ini seni pertunjukan tradisional cukup efektif pula sebagai media penerangan ataupun kritik sosial, baik dari pemerintah atau dari rakyat. Misalnya pesan-pesan pembangunan, penyampaian informasi dan lain-lain. Sebaliknya rakyat dapat mengkritik pimpinan atau pemerintah secara tidak langsung misalnya lewat adegan goro-goro pada wayang atau dagelan pada ketoprak. Hal ini disebabkan adanya anggapan mengkritik (lebih-lebih) pimpinan atau atasan adalah “tabu”. Melalui sindiran atau guyonan dapat diungkap tentang berbagai ketidakberesan yang ada, tanpa menyakiti orang lain.

Sebagai media tontonan seni pertunjukan tradisional harus dapat menghibur penonton, menghilangkan stres dan menyenangkan hati. Sebagai tontonan atau hiburan seni pertunjukan tradisional ini biasanya tidak ada kaitannya dengan upacara ritual. Pertunjukan ini diselenggarakan benar-benar hanya untuk hiburan misalnya tampil pada peringatan kelahiran, resepsi pernikahan dan lain-lain.

B. Seni Pertunjukan Modern

Contoh pertunjukan modern antara lain drama, opera, fragmen, teater, dan film. Seni pertunjukan modern banyak ditampilkan di media elektronik seperti televisi.

Seni pertunjukan meliputi seni tari, seni drama, dan seni musik.

1. Seni Tari

Apakah Anda mengenal seni tari? Menurut Curt Sach dalam World History of The Dance, tari adalah gerak yang berirama. Menurut Corrie Hartong tari adalah gerak gerik badan yang diberi bentuk dan irama di dalam ruang.

Secara sederhana tari adalah ungkapan gagasan atau perasaan yang estetis dan bermakna yang diwujudkan melalui media gerak tubuh manusia yang ditata dengan prinsip-prinsip tertentu. Dalam seni tari, unsur utamanya adalah gerak, dan unsur terpenting lainnya adalah irama. Di Indonesia terdapat berbagai macam tari yang berasal dari berbagai daerah.

Berikut akan kalian pelajari satu persatu.

a) Tari Saman

Tarian ini mempunyai komposisi khas, berasal dari beberapa daerah Propinsi Aceh seperti Aceh Tengah, Aceh Timur, dan Aceh Barat. Tarian ini dilakukan secara berkelompok, sambil bernyanyi dengan posisi duduk berlutut dan berbanjar/bersaf tanpa menggunakan alat musik pengiring. 

Bentuk tarian ini banyak memainkan tangan yang ditepuktepukkan pada berbagai anggota badan yang dihempaskan ke berbagai arah dan dipandu oleh seorang pemimpin yang lazimnya disebut Syeh. Tarian ini mempunyai bentuk sajian dominan berupa gerak langkah kaki yang lincah seperti berlari, dan sangat dinamis.

Karena kedinamisan geraknya, tarian ini banyak dibawakan/ditarikan oleh kaum pria, tetapi dalam perkembangannya sekarang tarian ini sudah banyak ditarikan oleh penari wanita maupun campuran antara penari pria dan penari wanita. Tarian ini ditarikan oleh kurang lebih 10 orang, dengan rincian 8 penari dan 2 orang sebagai pemberi aba-aba sambil bernyanyi.

b) Tari Tor-Tor

Tarian ini termasuk tari hiburan dari Sumatera Utara. Tari ini disajikan sebagai hiburan selingan upacara adat. Ragam geraknya sangat sederhana, pola gerak banyak meniru gerakan binatang, misalnya walang kekek yang dalam bahasa daerah disebut balanghua. Iringan yang digunakan adalah Gondang Simalungun.

c) Tari Sriwijaya

Tarian ini berasal dari Sumatera Selatan dan merupakan tari tradisi yang saat ini masih dipercaya sebagai peninggalan kerajaan Sriwijaya. Tarian ini biasanya digunakan pada acara penyambutan tamu agung kerajaan tersebut.

d) Tari Payung

Tari ini berasal dari Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Pada dasarnya tarian ini dibawakan secara berpasangan antara penari pria dan penari wanita, dengan menggunakan payung. Gerakannya merupakan aspek kehidupan para remaja yang ada di daerah tersebut. Musik pengiring aslinya menggunakan Talempong dan Saluang, tetapi pada masa kini sudah banyak diiring dengan instrument Barat, seperti orkes Melayu. Lagu-lagu yang digunakan untuk mengiringinya pada umumnya lagu Babindi-Bindi, Singgalang Runtuah, Singgalang Renyai, dan lagu Minang Lenggang.

e) Tari Ya-Fatah

Tari Ya-Fatah merupakan tari rakyat Jambi yang terdapat di desa-desa di sepanjang aliran sungai Batanghari. Tarian ini merupakan sarana pemikat untuk mengumpulkan masyarakat dalam upaya penyebaran agama Islam. Selain itu tari ini juga berfungsi sebagai sebagai pengantar pengantin pria ke tempat pengantin wanita.

f) Tari Tabot

Tari tabot adalah bagian dari upacara Tabot setiap bulan Muharam, berlangsung di kotamadya Bengkulu. Riwayat Tabot erat hubungannya dengan peringatan wafatnya cucu Nabi Muhammad saw.

g) Tari Piring

Tari ini sudah hidup subur di wilayah pesisir selatan dan Sumatera Barat. Penyajian tari ini dilakukan secara berpasangan maupun kelompok dengan ragam gerakan yang sifatnya cepat dan dinamis serta diselingi bunyi piring berdetik yang dibawa oleh para penari. Tarian ini banyak menggambarkan kegembiraan, kebersamaan, kesejahteraan, dan kemakmuran rakyat Minangkabau.

h) Tari Zapin

Tari Zapin merupakan jenis tari ketangkasan dan kelincahan gerak yang indah dan berirama. Tari ini pada mulanya berkembang di kalangan santri terutama sebagai pengisi waktu senggang mereka setelah selesai mempelajari ilmu agama dan melaksanakan pekerjaan sehari-hari. Kalau ditinjau dari ragam gerak dan komposisinya, dapat diduga tari ini merupakan penyesuaian tari-tari kepahlawanan dari Timur Tengah, dan masuk ke Indonesia bersama dengan awal perkembangan agama Islam.

Gerak tari in terutama ditekankan pada kelincahan rentak kaki dan kelenturan tubuh melakukan gerak berputar, maju mundur dengan cepat.Keharmonisan tari ini paling nampak jika ditarikan berpasangan atau oleh beberapa penari yang dijalankan secara serentak dan kompak, cepat, lincah, sehingga mendebarkan hati yang melihat. Penyajian tari ini bisa berpasangan maupun kelompok yang disajikan dengan tempo cepat, lincah, yang ditarikan oleh penari pria dengan mengandalkan irama dari hentakan kaki dan jentikan jari tangan penari tersebut.

i) Tari Penggung Cambai

Penggung artinya pegang, cambai artinya sirih. Tari Penggung Cambai adalah sebuah tarian rakyat daerah Lampung yang menggambarkan tata kehidupan masyarakat terutama tata pergaulan muda-mudi yang menjunjung tinggi adat istiadat. Daun sirih merupakan lambang rasa hormat, hingga sirih (sekapur sirih) sering dipakai dalam acara menyambut tamu agung atau dalam perjamuan kecil lainnya.

j) Tari Cokek

Tarian ini berasal dari DKI Jakarta yang merupakan tari pergaulan. Tarian ini ditarikan berpasangan antara laki-laki dengan perempuan dengan iringan khas musik Jakarta yaitu gamelan Gambang Kromong.

k) Tari Gambyong

Tarian klasik ini berasal dari Surakarta, Jawa Tengah, yang menggambarkan sifat-sifat wanita yang diungkapkan dalam gerak halus, lembut, lincah, dan terampil namun sebagai seorang wanita Jawa tetap menonjolkan keluwesannya. Beberapa contoh tarian ini adalah Gambyong Gambirsawit, Gambyong Pareanom, dan Gambyong Pangkur.

l) Tari Bedaya

Tari Bedaya merupakan tari kelompok dengan komposisi 9 (sembilan) orang penari putri. Komposisi ini mengandung cerita tertentu yang sangat simbolik dan tidak menggunakan dialog. Gerak-geriknya sangat halus dan lembut. Komposisi 9 mempunyai nama sendiri-sendiri, yaitu: Batak, Jangga, Dada, Buncit, Apit Ngajeg, Apit Wingking, Endel Pojok, Endel Weton Ngajeng, dan Endel Weton Wingking. Fungsi tari Bedaya adalah sebagai tari upacara adat kraton, diantaranya Penobatan Raja, Tumbuk Yuswa (Hari Ulang Tahun).
Tari Bedhaya
Gambar 1. Tari Bedhaya. (Flick/mas_mashroel)
m) Tari Remo

Tarian ini menggambarkan karakter penari putri (pada umumnya ditarikan oleh pria yang berbusana putri). Tari in biasa digunakan untuk menyambut tamu. Hadirin yang datang disambut dengan tarian yang lincah dengan menggunakan permainan selendang (remong).

Bentuk tari ini ditandai dengan gerakan lincah dan dinamis. Penari juga membawakan tembang yang isinya mengucapkan selamat datang kepada para hadirin. Dalam perkembangan selanjutnya, tari ini tidak ditarikan perempuan saja, tetapi juga penari pria dengan karakter laki-laki dengan pola gerak gagah. Fungsi tarian ini adalah hiburan, dan pada umumnya digunakan sebagai pembuka pertunjukan teater Ludruk.


Istilah drama berasal dari bahasa Yunani yakni dari kata dramon yang berarti perbuatan atau gerak. Jadi, drama berarti seni untuk mengungkapkan pekerti manusia melalui perbuatan yang dipanggungkan. Kata/istilah teater menunjuk pada “seni pertunjukan”. Dalam seni teater kehadiran penonton memiliki nilai yang sangat penting. Kerjasama antara pelaku teater dan penonton menjadi inti/hakikat dari pertunjukan teater.

Istilah teater di Indonesia biasa diartikan sebagai seni pertunjukan yang terfokus pada cerita, dialog, dan seni peran (acting). Seni teater termasuk dalam seni multimedia karena menggunakan lebih dari satu media. Seni teater mengungkapkan maknanya melalui bahasa teatrikal (pengalaman teater). Tujuan utama seni teater adalah pengalaman dan kenikmatan teatrikal.

Dengan demikian, secara sederhana dapat kita katakan bahwa seni teater (drama) adalah ungkapan, gagasan, atau perasaan yang estetis dan bermakna yang diwujudkan melalui media gerak, suara, dan rupa yang ditata dengan prinsip-prinsip tertentu.

Seni drama terbagi menjadi dua macam, yaitu drama tradisional serta drama modern. Berbagai daerah di Indonesia memiliki bermacam-macam jenis drama tradisional antara lain sebagai berikut.
  1. Lenong ( Betawi )
  2. Kethoprak ( Jawa Tengah dan DIY )
  3. Ludruk ( Jawa Timur )
  4. Cupak Gerantang ( Lombok )
  5. Wayang ( Jawa )
  6. Arja ( Bali )
Yang menonjol di antaranya adalah seni pedalangan atau pewayangan. Wayang dalam arti bahasa berarti bayangan, ialah semacam seni drama, di mana boneka-boneka digerakkan oleh seorang dalang dan bayangan boneka-boneka itu ditangkap di atas kelir. Supaya dapat melihat bayangan wayang itu, maka para penonton harus duduk di belakang layar.

Wayang pada umumnya dimainkan pada malam hari dengan penerangan lampu minyak kelapa yang besar, yang disebut “blencong”. Pertunjukan wayang pada awalnya adalah upacara pemujaan arwah nenek moyang. Boneka wayang adalah lukisan dari nenek moyang yang arwahnya dihadirkan dalam upacara itu. Dalam peranannya wayang adalah perantara (medium) antara dunia nyata dengan alam gaib. Tugas dalang adalah sebagai “syaman”. Upacara pertunjukan wayang mula-mula selalu diadakan di ruangan yang suci dalam rumah orang Jawa yang disebut pringgitan. Ruangan tersebut berada di perbatasan antara pendapa dalem. Sebelum pertunjukan wayang dimulai terlebih dahulu dalang mengadakan upacara keagamaan dengan membakar dupa dan memberikan sesaji.

Pertunjukan wayang sebagai upacara keagamaan disertai dengan musik gamelan yang disesuaikan dengan keadaan alam. Misalnya antara jam 6 sore dan 9 malam bunyi gamelan mengikuti bunyi-bunyian dalam alam yang sedang istirahat menuju ke suasana akan tidur, jadi menyerupai suara angin. Antara jam 9 malam dan jam 2 malam, alam tidur nyenyak maka suara gamelan menjadi lebih berat dan lebih mendalam. Antara jam 2 malam dan jam 6 pagi alam menuju ke suasana bangun, maka bunyi gamelanpun bertambah ramai dan suaranya keras.

Adapun jenis-jenis wayang dan ceritera yang dipertunjukkannya adalah sebagai berikut.

a. Wayang Kulit

Terbuat dari kulit binatang seperti sapi dan kerbau. Wayang kulit juga dinamakan wayang purwa. Kata purwa berasal dari bahasa Sansakerta parwa yaitu bagian dari buku Mahabharata. Cerita wayang kulit diambil dari kitab Mahabharata dan Ramayana, tetapi ceritanya sudah disesuaikan dengan suasana dan kepribadian Indonesia. Sebagai contoh adalah terdapat punakawan (semar, gareng, petruk, dan bagong) yang tidak terdapat dalam Mahabharata dan Ramayana asli.

b. Wayang Beber

Sumber ceritera tetap dari Ramayana dan Mahabharata, tetapi tiap adegan dilukis di kain yang dapat digulung dan dibuka (dibeber). Dalang akan menceritakan jalannya adegan-adegan itu diiringi gamelan.

c. Wayang Krucil (Wayang Klitik)

Disebut demikian karena bentuknya yang lebih kecil dari wayang purwa. Cerita yang dimainkan adalah cerita-cerita dari zaman Majapahit, tetapi cerita-cerita Menak pun juga sering dimainkan.

d. Wayang Gedog

Bentuknya seperti wayang kulit, tetapi bahannya dari kayu. Ceritanya diambil dari zaman Kediri dan Jenggala (cerita panji). “Gedog” artinya kandang kuda, disebut wayang gedog sebab banyak tokohnya yang namanya memakai kata “kuda,” misalnya Panji Kudawanengpati.

e. Wayang Golek

Wayang golek terbuat dari boneka kayu yang dikombinasi dengan kain sebagai pakaiannya. Cerita yang dimainkan mengambil cerita kesusasteraan Islam seperti cerita-cerita Menak. Wayang golek terkenal di daerah Jawa Barat. Musik pengiringnya gamelan diiringi vokal pesinden.

f. Wayang Orang

Sumber cerita diambil dari Ramayana dan Mahabharata. Para pelakunya adalah orang-orang yang berpakaian seperti wayang. Para pemain dapat berdialog langsung sesuai jalannya cerita. Dalang dalam berindak juga sebagai sutradara. Iringan musiknya adalah gamelan.

g. Wayang Suluh

Muncul sejak zaman Jepang dengan maksud memberi penerangan (penyuluhan) kepada rakyat. Sumber cerita diambil dari zaman berdirinya Republik Indonesia dan masa perang kemerdekaan. Tokoh-tokoh wayang bentuknya seperti manusia zaman sekarang, termasuk cara berpakaiannya.

Anda sekarang sudah mengetahui Seni Tari, Seni Drama dan Seni Pertunjukan. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Dyastriningrum. 2009. Antropologi : Kelas XII : Untuk SMA dan MA Program Bahasa. Pusat Perbukuan Departemen Nasional, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 90.

Lestari, P. 2009. Antropologi 2 : Untuk SMA dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 181.

Seni Rupa, Seni Ukir, Kerajinan, Pengertian, Contoh, Perkembangan, Macam-macam

Artikel dan Makalah tentang Seni Rupa, Seni Ukir, Seni Kerajinan, Pengertian, Contoh, Perkembangan - Selain seni patung, seni rupa Indonesia juga menghasilkan seni kerajinan yang memiliki manfaat dalam kehidupan sehari-hari. 

A. Seni Ukir

Seni ukir diartikan sebagai ragam hias yang bersifat kruwikan, buledan, sambung-menyambung, dan merupakan bentuk lukisan yang indah. Bertolak dari pengertian tersebut, maka seni ukir sebenarnya adalah hasil suatu gambaran yang dibuat oleh manusia pada suatu permukaan yang dikerjakan sedemikian rupa dengan alat-alat tertentu sehingga permukaaan yang asal mulanya rata menjadi tidak rata (kruwikan dan buledan). Dengan demikian ciri utama suatu ukiran adalah membuat suatu permukaan menjadi tidak rata.

1) Latar Belakang Seni Ukir di Indonesia

Kehadiran seni ukir di Indonesia sebenarnya telah tumbuh pada zaman purba ketika kesenian Indonesia menerima unsur-unsur seni Hindu. Dalam perkembangan waktu yang cukup lama, seni ukir menjadi milik bangsa Indonesia dan diwujudkan dalam mengisi dinding-dinding arsitekturnya. Hal ini dapat dilihat pada seni bangunan percandian yang memiliki karya-karya batu ornamentik yang indah.

Menurut Van den Berg dan Kroskamp, seni arca berasal dari bangsa Hindu, tetapi mereka mengatakan bahwa yang membuat candi dan arca di Dieng adalah orang Jawa sendiri. Seniman tersebut menciptakan bangunan di Dieng berdasarkan pengetahuan dari guru-guru mereka yang berasal dari India. Dengan demikian seni bangunan dan seni arca yang ada di Indonesia mempunyai corak tersendiri sebagai hasil dari kreativitas orang Indonesia.

Usaha pemeliharaan dan pengembangan seni ukir klasik ini dipertahankan terus dari bentuk serta keindahannya, sehingga mencapai puncak perkembangannya pada zaman keemasan kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Hal ini dapat diketahui dari berita perjalanan Hayam Wuruk yang ditulis oleh pujangga Prapanca yang berbunyi antara lain, bahwa dalam perjalanan tersebut Hayam Wuruk telah mengunjungi beberapa tempat suci seperti candi Penataran yang didirikan di lereng gunung Kelud. Pada dinding candi tersebut terdapat relief tokoh pewayangan dan juga banyak arca yang indah.

Sejalan dengan masa suramnya kerajaan Majapahit, berkembanglah agama Islam serta peradabannya di Jawa, khususnya di pantai utara Jawa. Bila pertumbuhan seni ukir diawali dengan masuknya agama Hindu di Jawa, maka berkembangnya seni ukir seiring dengan berkembangnya kebudayaan Islam yang berpusat di kesultanan Demak melalui proses akulturasi. Walaupun kerajaan Majapahit mengalami masa surut, namun tidak berarti membawa runtuhnya seni hias klasik di Jawa, bahkan ia merupakan awal dari perkembangan baru kebudayaan zaman madya dengan bentuknya yang khusus terutama adanya pengaruh agama Islam.

Dalam banyak hal kebudayaan Islam memang sangat berpengaruh terutama dalam pelarangan mewujudkan bentuk-bentuk figur ataupun makhluk hidup dalam setiap unsur ukiran. Hal ini dibuktikan dengan lahirnya bentuk-bentuk yang telah distilir dari makhluk hidup tersebut. Pengaruh Islam juga menyebabkan seni patung tidak berkembang di Jepara, sehingga terjadi perbedaan yang nyata antara perkembangan seni ukir di Jepara dengan seni ukir yang berkembang di Bali.

Berikut ini disajikan contoh-contoh visual gaya seni ukir yang berkaitan dengan aneka ragam motif hias dan gaya mebel ukir yang berkembang di Jepara.

2) Jenis-Jenis motif Hias

a) Motif hias percandian
Relief di Prambanan
Gambar 1. Relief di Prambanan menampilkan Shinta tengah diculik Rahwana yang menunggangi raksasa bersayap, sementara burung Jatayu di sebelah kiri atas mencoba menolong Shinta. (Wikimedia Commons)
b) Motif hias kedaerahan
motif hias Majapahit, Pajajaran, Bali, Surakarta, Pekalongan, Cirebon, Yogyakarta, Jepara, Madura, dan Mataram
Gambar 2. motif hias Majapahit, Pajajaran, Bali, Surakarta, Pekalongan, Cirebon, Yogyakarta, Jepara, Madura, dan Mataram.

Beberapa bentuk kerajinan adalah seni anyam, tenun, tembikar, kerajinan kayu,hingga seni sesaji.

1) Seni Anyaman

Seni anyaman adalah kerajinan kesukuan yang umumnya dilakukan penduduk pedesaan di Indonesia. Kerajinan itu, telah menyatu dengan kegiatan keseharian masyarakat tradisional dalam menghasilkan barang keperluan sehari-hari. Seni mengayam tidak memerlukan peralatan yang rumit dan bahannya ditemukan berlimpah di desa.

Tabel 1. Hasil-Hasil Seni Anyam di Indonesia

No.
Hasil Anyaman
Keterangan
1.
Tikar
Terbuat dari rotan, sisal dan pandan. Berbagai tikar ditemukan di Jawa, Bali, Lombok, Madura, dan Kalimantan.
2.
Tas
Ditemukan di seluruh wilayah Nusantara. Di Jawa, tas anyaman telah menjadi industri rakyat.
3.
Topi
Bentuk topi yang luar biasa adalah tilangaa yang berpinggir lebar karya orang Rote.
4.
Puan
Berguna sebagai penyimpan sirih, berkembang di Kalimantan Tengan dan Kalimantan Timur.
5.
Tempat air
Terbuat dari daun tal yang direntangkan dengan lidi. Tempat air semacam ini ditemukan di Pulau Rote.
6.
Alat musik
Sesandu terbuat dari bambu dengan kotak resonan daun tal. Sesandu ditemukan di Pulau Rote dan Timor.
Sumber: Indonesian Heritage: Seni rupa, halaman 29

2) Tembikar

Indonesia memiliki kekayaan tradisi pembuatan tembikar sejak masa prasejarah. Tradisi itu telah memenuhi kebutuhan masyarakat atas perkakas sehari-hari dan benda-benda upacara. Desa tembikar tradisonal ditemukan di seluruh Indonesia kecuali di Papua.

3) Kerajinan Kayu

Persediaan kayu yang melimpah di Indonesia sejak dahulu kala menyediakan bahan mentah bagi kerajinan kayu. Di antara barang-barang kerajinan kayu yang penting dalam kehidupan sehari-hari adalah perabot rumah tangga, benda penghias, dan benda pelengkap.

Anda sekarang sudah mengetahui Seni Ukir dan Seni Kerajinan. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Dyastriningrum. 2009. Antropologi : Kelas XII : Untuk SMA dan MA Program Bahasa. Pusat Perbukuan Departemen Nasional, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 90.

Lestari, P. 2009. Antropologi 2 : Untuk SMA dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 181.

Label