Entri Populer

Tampilkan postingan dengan label Cerita Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Anak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Januari 2013

Capo Yang Sombong



Al kisah hiduplah seekor anak capung yang sombong. Si Capo namanya. Selain sombong, ia juga sangat nakal. Capo jarang mau mendengar nasihat ibunya. Disuatu sore yang cerah, Capo asik terbang di udara.
"Capo jangan main jauh-jauh!" Nasihat ibunya. Capo tak mau mendengar ibu. Ia malah terbang meninggalkan ibu dan kedua adiknya.
"Capo jangan terbang terlalu jauh, Nak!" kata ibu memperingatkan Capo. 
"Ingat adik-adikmu! Kau lupa mengajak mereka bermain!" "daaah Buuu!" "Hari ini aku ingin bermain sendiri" Kata Capo sambil melesat meninggalkan Ibu dan Kedua adiknya. Saat terbang semkin jauh, ia bertemu dengan seorang anak manusia. Capo sempat terperanjat melihat manusia yang begitu besar. "Ah, buat apa aku takut!  Toh dia tidak bisa terbang seperti aku, aku punya sayap dan bisa terbang tinggi". Sifat sombongnya mulai muncul.

Tiba-tiba langit menjadi gelap, Capo mulai cemas. Dia berusaha bertahan tetapi Ngi ngi angin meniup Capo dengan sangat kencang. Capo terhempas di udara. Capo berusaha lebih kuat lagi, tapi yang terjadi, Ngi ngi angin meniup tubuh Capo semakin jauh. Yang dilakukannya hanya menghindar dari tiupan Ngi ngi. Ngi ngi angin terus bergerak mendekat. Ia meniup Capo lebih kencang. oh rupanya Ibu menyaksikan peristiwa itu. "Capo, bertahanlah, Nak!"
Sayang, Ibu tidak bisa menjangkau Capo. Capo mulai panik apalagi guntur datang menggelegar, hujan pun turun dengan deras. Ditambah kilatan petir membuat Capo ketakutan. Ia segera mencari tempat berlindung. "Brrr, dingin sekali..." Capo menggigil. Tiba-tiba capo teringat pada Ibu dan kedua adiknya. Capo ingin menangis, teringat pada Ibu dan adiknya. Namun tak disangka, Lulu ular menyelinap dari rimbun dedaunan.
"Hmmmm, aku sangat lapar...." Seketika Ngi ngi angin menghentikan langkahnya. 
Hap! Lulu segera menyerang capo. "Aaaaa.....!" Capo kaget bukan kepalang. Untunglah, Ngi ngi cepat meniup tubuh Capo. Ctak! Serangan Lulu meleset. 'Aduh!" Lulu ular meringis. Kepalanya terbentur pohon.
"Huh! Salah perhitungan!" Lulu menggerutu. "Takkah kau lihat, Capo? Si lulu ada dipohon itu," Ngi ngi memberitahu. "Oh Ngi ngi. terimakasih atas bantuanmu."
"Aku tak tahu apa yang terjadi jika kau tak segera meniupku," Capo sedikit lega. "Aku menyesal tak mau mendengar nasihat Ibu."
"Pulanglah, Capo. Ibumu pasti cemas menunggumu." "Yah, aku berpikir hal yang sama...."
"Tapi...... aku sungguh tak mengenal tempat ini," Capo mulai khawatir.
"Bagaimana aku bisa pulang?" Capo tampak lesu.
"Aha! Tak perlu khawatir." "Aku akan meniupmu sampai ke rumah!" "Waaaa, terimakasih, Ngi ngi!" seru Capo gembira.
Akhirnya, Capo pulang dengan selamat. "Sekali lagi, terimakasih Ngi ngi. Aku tak tahu bagaimana membalas jasamu."
"Ah, Sudahlah!  Itu sudah menjadi tugasku."
"Sampai jumpa, Capo. Sampaikan salamku untuk Ibumu!"

Senin, 21 Januari 2013

Aku Sayang Nenek

Muka Widi di tekuk. Wajahnya cemberut. Sarapan pagi yang sedari tadi dihadapinya tidak disentuhnya. Ia tidak peduli kalau nanti ketinggalan mobil oleh ayah.
"Ayo cepat saarapan! nanti kamu ditinggal ayah, Itu lihat, Ayah sedang memanaskan mobil. Sebentar lagi ayah berangkat" tegur Ibunya kepada Widi. Widi tidak menanggapi. Ia hanya duduk diam. Mulutnya terkunci rapat. Widi sedang kesal-kesalnya, sejak kedatangan neneknya, Widi seperti ada di neraka. langkah kaki widi seolah dikekang.
Pagi-pagi sekali disaat suara adzan subuh belum terdengar, muka widi sudah terkena cipratan air yang dilakukan oleh neneknya, itulah cara nenek membangunkanya.
Katanya untuk melatih disiplin. Padahal tidur Widi saat itu sedang enak-enaknya. Jika sudah bangun, nenek akan menyuruhnya cepat-cepat mengambil air wudlu untuk shalat shubuh. lalu disuruhnya Widi belajar kemudian mandi, ganti baju, dan berangkat ke sekolah. 
Nenek kini menjadi pengatur hidupnya. Widi sudah mulai bosan dengan nenek. Nenek banyak mengatur, ia ingin tahu urusan Widi, Nenek jjuga cerewet.
"Lho kok belum di makan sarapannya. Apa masakan nenek tidak enak?" tegur nenek yang sudah didekatnya. "Apakah Widi mau nenek suapin?" "Apa mau ditemanin nenek?"
Nenek menraik kursi makan. ia kini sudah duduk didekat Widi. Muka Widi semakin cemberut. Sapaan yang lembt dan ramah tidak dihiraukan lagi. Bahkan kalau disuruh memilih, Widi ingin Nenek secepatnya pergi. 
"Nasi goreng ini Nenek buat khusus untuk kamu. Coba cicipi, pasti enak."nrayu neneknya. Widi menggelengkan kepalanya. Nasi gorengnya tidak disentuh sama sekali.
"Kamu harus sarapan, kalu tidak sarapan nanti kamu sakit di sekolah". "Ayo cicipi dua atau tiga sendok saja...." tetapi tetap menggelengkan kepalanya, kali ini Widi jengkel. Tapi ia masih memendam perasaanya.nnasehat neneknya sudah tidak didengarkannya lagi. "Nih, Nenek suapin. Sekali kamu mencoba nasi goreng nenek pasti kamu ketagihan...." Widi sudah tidak tahan. Saat sendok berisi nasi goreng terjulur ke mulutnya, Widi segera menepisnya dengan cukup keras. Sendok dan nasi goreng itu tumpah berantakan. Nenek sangat terkejut, Namun widi tidak peduli.
"Nenek cerewt, Widi kan sudah bilang Widi nggak mau sarapan!" Widi sudah kenyang. Widi bosan sama nenek! Widi senang kalau nenek pergi dari sini!"
Widi segera pergi setelah menumpahkan segala kesalahannya. ia tak peduli suara panggilan neneknya. ia juga tidak peduli kata-kata maaf dari neneknya. Widi masuk ke dalam mobil ayahnya yang sudah menunggu dari tadi.
Sepulang sekolah, Widi  berjalan mengendap-endap. Tubuhnya membungkuk sedikit. Ia tak ingin bertemu neneknya. Ia ingin langsung masuk kamar, ganti baju dan terus main. Karena kalau ketahuan nenek, Widi pasti disuruh makan siang dulu dan tidur siang. Pulang sekolah tidak boleh main.
"Widi sedang apa kamu?"
Widi terkejut. Ia membalikan tubuhnya. Dihadapannya sudah berdiri ibunya. "E..e...e.., Bu." Suara Widi terbata-bata. Ibunya tersenyum melihat tungkah Widi. "Maka dari itu kalau masuk rumah ucapkan salam!" "Bukan Mengendap-endap seperti itu"
"enggak kok Bu, Widi tadi melihat tikus disitu,' Kata Widi menunjuk ke arah sebuah pot dipojok tanaman. "widi ingin mengusirnya"
Ibu Widi menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu sekarang sudah pintar berbohong yah!" Widipun tersipu malu. "Ah, enggak Bu!" Widi coba membantah. "Widi tadi siang nenek sudah pulang. Karena ada keperluan mendadak."
"Hah,pulang!"
"Iya, Nenek pulang. Nenek tadi tidak sempat pamit sama kamu. Nenek hanya bilang, ia minta maaf kalau selama ada nenek disini, kamu merasa terganggu."
Perasaan Widi campur aduk. Ada rasa kaget, ada rasa senang. Namun yang pasti Widi sekarang merasa bebas. dirumahnya tidak ada lagi yang akan mengaturnya. Widipun tersenyum.
"Kenapa kamu tersenyum?" tanya ibunya. Widipun terperanjat. lantas katanya kemudian, "Nggak apa-apa kok Bu. Widi tersenyum karena besok hari libur dan rencananya besok Widi akan pergi ke Taman Safari."
"Oh, yang kemarin kamu bicarakan sama Irfan?"
"Iya".
"Sama Bu Guru kan?"
Widi mengangguk.
"Ya sudah, sekarang kamu persiapkan segalanya supaya besok tidak terlambat."
Sudah sejak tadi ayam berkoko keras sekali. suaranya yang nyaring seperti hendak membangunkan siapa saja untuk beranjak dari tempat tidurnya. Matahari pagi juga bersinar terang. Namun, sinar matahari pagi yang menembus kamar Widi pun tak sanggup membangunkan Widi. Widi lelap dalam tidurnya. Pasti sedang mimpi indah. Matanya terpejam rapat. Selimutnya menutupi seluruh  tubuh. Suara apapun tak bisa membangunkannya. 
"Widi, sudah siang, bangun!"
teriak ibunya yang tak juga sanggup membangunkan Widi. Bahkan Widi bergerak sedikitpun, juga tidak.
"Widi! Katanya pmau pergi ke Taman Safari...." Taman Safari?! Widi terperanjat kaget. Ha, bukankah aku harus pergi sekarang juga.
Widi melemparkan selimut dan melompat dari tempat tidur. bayangan buruk tiba-tiba mengelilinginya. Widi melihat jam dinding. PUKUL TUJUH!!!!. Aduh, aku terlambat...!
Dengan tergesa-gesa Widi membuka pintu kamarnya. Widi bingung, tapi juga khawatir. Ia yakin, dirinya pasti sudah ketinggalan. Teman-temannya jelas sudah pergi. Widi tidak tahu harus berbuat apa. Ibunya yang berada di depan pintu hampir saja ditempatkannya. "katanya mau ke taman Safari, jadi apa tidak?" tanya ibunya. Widi tidak memperdulikan pertanyaan ibunya. ia bingun apa yang mesti ia lakukan. tiba-tiba muncul perasaan kecewa terhadap ibunya.
"ini semua gara-gara Ibu!"
"Lho,kok Ibu?"
'iya. Ibukan sudah tahu kalau hari ini Widi harus pergi ke taman Safari. kenapa Ibu tidak membangunkannya?" Ibunya menggelang-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Widi tersebut. "Begini saja," kata Ibu yang tiba-tiba punya gagasan setelah melihat Widi kebingungan.
"Sekarang kamu telepon saja ke sekolah. tanyakan teman-temanmu sudah berangkat apa belum. Kalau belum, kamu tanyakan, bisa tidak menunggu sebentar..."
tak lama setelah Widi menelpon ke Sekolahnya......
"Bagaimana?" tanya ibunya, meskipun dari sikap Widi yang murung, ibunya sudah tahu jawabannya. Widi diam membisu. Wajahnya memerah, matanyapun berkaca-kaca. Melihat itu, timbul rasa iba sang Ibu.

"Sudahlah. Kalau kamu tak bisa berangkat hari ini, lain waktu kamu pasti bisa berangkat."
Yang Widi pikirkan bukan itu Bu. Widi bingung bagaimana nanti tugas yang telah diberikan oleh ibu guru kepada Widi".
Ibunya mengangguk-angguk, mencoba mengerti. katanya kemudian. "Andai nenek masih disini....."
"Nenek" gumam Widi.
"iya Nenek," tegas ibunya, "Bukankan nenek yang paling rajin mengingatkan kamu untuk selalu bangun pagi. Bahkan tidak hanya mengingatkan, nenek juga yang tiap hari membangunkan kamu, Coba kalau ada nenek, kamu pasti bisa berangkat..."
Mata Widi menerawang. Tiba-tiba rasa penyesalan tiba timbul. Bahkan rasa penyesalan itu seolah semakin besar. Widi merasa sangat bersalah. Widi menyesali kebohongannya sendiri.
"Bu, Widi merasa menyesal. Widi telah menyakiti hati Nenek. Padahal Widi seharusnya berterimakasih kepada nenek...." kata Widi penuh sesal. Widi sadar, mungkin inilah hukumannya akibat menyakiti hati Nenek.
"Benar kamu menyesal?" tanya ibunya. Widi menggagguk lemah. "Ya, sudah. Sekarang kamu mandi. Nanti kita ke rumah Pak De." "Ke rumah Pak De?" Widi tidak mengerti.
"Iya, Nenek tidak pulang, tapi dirumah Pak De. Disana nanti kamu harus minta maaf sama Nenek. Sekalian kita pergi ke Taman Safari menyusul teman-temanmu."
Widi berlonjak kegirangan.
"Benar Bu?" Ibupun menganggukan kepalanya. mata Widi yang tadi berair seketika bercahaya. Widi kini bahagia. 

Jumat, 18 Januari 2013

GARA-GARA JOROK


Dulu, Uci si Kucing, Guk-guk si Anjing, san Tesi si Tikus saling bersahabat. Mereka selalu berjalan seiring dalam mencari makan. Bila ada potongan tulang, mereka selalu berbagi. Tidak jarang, Gug-guk dan dan Uci menunggui Tesi makan. Maklum tubuh Tesi paling kecil. sehingga makannya sering tertinggal. 
"terimakasih, kalian selalu menunggukiku makan. Sehingga perut kita sama-sama kenyang. Ini namanya persahabatan." Ujar Tesi sambil mengelus perutnya. 
"Persahabatan memang indah". Timpal Uci sambil mengelus kumisnya. Guk-guk tertawa. Tak lama kemudian dia pergi ke sebuah pohon. Lalu kencing sambil berdiri.

"Hi...hi...hi..." Uci tertawa. "kau kencing seenaknya, apakah tidak malu dengan Sang kelinci?" Guk-guk tersenyum kecut. Tiba-tiba hatinya jadi kesal.
"Apa urusannya dengan aku. Dia adalah Dia."
Suara Guk-guk meninggi.
"Aduuuuuhh...." Uci memegang perutnya. Wajahnya meringis seperti menahan beban. 
"Ada apa Uci?" Tanya Tesi heran.
"Kau mau buang air besar, kan? Aku mau lihat apakah kau mempunyai rasa malu?" Ujar Guk-guk. Uci rupaya mau buang air besar. Dia tidak tahan lagi. lalu berlari ke arah rumpun pohon.
"Mengapa kamu tergesa-gesa?" Tanya Tesi. Sementara Guk-Guk tertawa mengejek. Uci tampak bingung. Dia melihat setumpuk pasir. kemudian membuag kotorannya. Sesudah itu, kotoranya diurug dengan pasir tapi tidak rata. Tercium bau menyengat. Guk-guk marah. "Kotoranmu bau! Bau! Aku tak tahan.!" Pekik Guk-guk. Sedang tesi menutup hidugnya. Beginilah nasib persahabatan. Hal sepele bisa jadi permusuhan. Sementara Tesi bersiul-siul, sebab dia tidak membuat jengkel teman-temannya. Sejak kejadian itu mereka tidak berjalan beriring lagi.
Suatu malam Guk-Guk dan Uci sepakat bertemu di rumah Tuan Banu. Tuan Banu adalah saudagar kaya yang rumahnya berantakan. Mereka sepakat mencari kesalahan Tesi.
"Nah, itu Tesi sedang bergerilya." Ujar Uci kepada Guk-guk. Guk-guk dan Uci mendekati persembunyian Tesi. "Aih apaan nih? Kakiku kok menginjak benda lengket?" Ujar Uci.  Guk-guk sama saja. Ternyata yang mereka injak kotoran tikus! Tentu saja keduanya kesal. Tesi buang kotoran dimana-mana. Ternyata kau sama joroknya dengan kami. Sekarang cucikan dulu kaki kami!"  Pekik Guk-guk. Tesi dikejar Uci. Sedag Uci dikejar Guk-guk. Mereka bertika berputar-putar mengeluarkan suara gaduh, sehingga Tuan Banu terbangun.
Lalu, "Zing....zing.... zing.......!" Tiga peluru ketapel menghajar mereka.  Ketiganya lari terbirit-birit dengan arah yang berbeda.
Sejak saat itu mereka saling bermusuhan. Tidak lagi makan dalam kebersamaan.

Tamat.

Sabtu, 05 Januari 2013

ELANG DAN TAMBUNAU




Si Tambunau, seorang anak yang tinggal di tepi hutan. Dia pandai menyumpit. Sumpitya biasa digunakan untuk berburu. Suatu pagi Si Tambunau pergi ke hutan. Dia ingin berburu. Di bawah pohon besar Tambunau melihat seekor elang bertengger di atas semak berduri. "Nah, ini sasaran pertama! pikir Tambunau. Tambunau mengurungkan niatnya. Ia melihat elang itu tertunduk sedih. Tambunau mendekat. Terdengar suara........ wiek..... wiek....... wiek........
"Hah, Ternyata  ada anak elang jatuh". Anak elang itu tidak dapat bergerak. Badannya terjepit bahan dan ranting. Tambunau segera menolong. Kemudian menyerahkan anak elang itu pada induknya. Elang terbang denga gembira. Mengepakkan sayapnya yang lebar. Sebagai tanda terimakasih.
Diatas pohon besar yang tinggi itulah sarangnya.
Sejak saat itu Tambunau tidak mau lagi berburu binatang. Ia menyayangi semua binatang.
Suatu pagi yang cerah di musim kemarau. Tambunau berjalan-jalan ke hutan. Di dalam hutan udaranya segar. Burung-burung berkicau riang. "Oh, alangkah indahnya hutanku yang lestari......"
Tiba-tiba dikejutkan oleh gemuruh dari hutan. Hewan-hewan berlarian kesana-kemari. "Ada apa gerangan?" Ternyata hutannya terbakar. "Aku harus memadamkan api sebisanya, namun api tidak dapat padam. Tambunau kepanasan, di tidak tahan. Matanya pedih, napasnya sesak. Tambunau berusaha menyelamatkan diri. Akhirnya api dapat dipadamkan oleh penduduk. Tambunau mau pulang, tapi ia tidak lagi mengenal arah jalan. Sekelilingnya gelap, penuh denga asap. Tambunau tersesat, ia tidak dapat pulang. Tambunau kelelahan. Ia beristirahat sambil melamun. "Mengapa orang-orang membakar Hari hutan? Pohon-pohon banyak yang mati. Demikian juga hewan, banyak yang ikut mati" 
Hari mulai gelap...... Orang tuaku pasti cemas mencariku", pikir Tambunau. sayup-sayup terdengar suara di angkasa. "....buik!....... buik!,..... buik !.
Itu seperti suara elang yang makin mendekat. "Hei..... ternyata kamu elang yang dulu anakmu kutolong, yaa....?" teriak Tambunau kegirangan.. Elang itu memiliki mata yang tajam. Dari angkasa yang tinggi, ia dapat melihat sekelilingnya. Tambunau mengikuti arah elang itu terbang. Tak lama kemudian, ia sudah menemukan rumahnya. Ibu dan ayahnya menyambut gembira. "Terimakasih Tuhan,.... terimakasih juga elang. 
Engkau sahabatku yang budiman", kata Tambunau.
TAMAT.



Kamis, 03 Januari 2013

CIPUL RINDU PADA AYAHNYA

Cipul sering termenung. Ayahnya telah lama pergi. Menurut ibu, ayahnya bekerja di kota. Kota di seberang. Dia tidak tahu kota itu dimana. Dia masih ingat betul. Sebelum pergi, ayah menciumnya sambil menangis. Cipul diberinya uang dua puluh ribu rupiah. Uang itu disimpannya baik-baik. Cipul tidak mau berjajan dengan uang itu. Dia tidak ingin uang itu habis. Dia tahut lupa pada ayahnya. Bahkan ia ingin menabung. Buat ongkos mencari ayahnya kelak. "Ayah, dimana Ayah berada? Cipul rindu Ayah...." keluhnya sedih. Cipul sering bertanya pada ibunya. "Ibu, bagaimana agar Cipul bisa bertemu Ayah?"
"Berdoalah kepada Allah!" jawab ibunya selalu. Cipul sering berdoa, semoga ayahnya cepat kembali. Suatu hari di Sekolah ada orang jualan balon. Semua teman sekelasnya membeli balon. Kecuali Cipul. Balon-balon itu selalu bergerak ke atas. satu balon terlepas, dan terbang. Cipul tersentak, dan........ "kalau balonnya banyak, pasti dapat menerbangkan aku," khayal Cipul. "Kalau aku terbang. Pasti asyik! Bisa melihat orang-orang dari udara."
"Dan..... bisa mencari ayahku!" 
Akhirnya Cipul membeli dua puluh ribu balon dengan uang pemberian ayahnya. Dia minta kepada penjual balon agar mengikatkan balon-balon itu di tangannya. Masing-masing sepuluh balon. Ketika penjual balon melepaskan pegangannya, Cipul tersentak..... Cipul dibawa terbang.! balon-balon itu ditiup angin. Cipul dibawa terbang tinggi sekali. Sekolahnya sudah ditinggalkan. Teman-teman Cipul berteriak-teriak. dia terbang diatas sawah dan sungai. bahkan gunung juga sudah dilewati. Angin semakin kencang. Membawa balon-balon dan Cipul. Cipul terbang melewati laut. Pemandangannya sangat indah. Dia melihat banyak kapal di pelabuhan. Dia baru sekali ini melihat kapal laut. Cipul terbang diatas kota...... 
Dia melihat seluruh pemandangan kota. "Ayahku pasti bekerja disini," pikir Cipul. "Ayah...... dimana engkau? Cipul rindu pada ayah....! teriaknya keras-keras. Orang-orang dikota ramai melihat Cipul. Para wartawan memotretnya dari bawah. "Tuhan, antarkan aku pada ayahku!" doa Cipul dalam hati. Sinar matahari semakin panas. Satu persatu balon Cipul meletus. Ada juga yang mulai mengempes. Akhirnya balon-balon itu tidak mampu lagi menopang dirinya. terbangnya mulai menurun. Cipul kecewa, dan takut....
Sekarang Cipul terbang semakin rendah. Dan terus rendah. Cipul takut sekali. Akhirnya, cipul jatuh dihalaman rumah sakit. Dia tidak ingat apa-apa lagi. badannya terhempas di ujung pohon. Cipul harus dirawat, karea pingsan. Orang-orang datang ke rumah sakit. Mereka ramai membicarakan Cipul. Radio-radio ramai memberitakannya. Dikoran dan televisi memuat gambarnya. Ayah dan ibunya juga menyaksikan siaran itu. Akhirnya mereka bertemu di rumah sakit. Cipul melampiaskan rindunya pada ayahnya. "Terimakasih ya Allah, syuhurnya dalam hati.

Tamat.









Label